Selasa, 22 Desember 2015

Film SENYAP dan Keheningan yang Menyesakkan..



Fs. Dari dalam terdengar suaranya yang seperti mewancarai. Adi yang menjadi tokoh dalam film ini bertanya jawab dengan seorang kakek dan perempuan setengah baya yang belakangan kita tahu dia anaknya. Dengan lugas si kakek menjelaskan bagaimana membunuh orang dan kemudian meminum darahnya. Biar gak stress, katanya. Sejenak Adi diam. Kemudian ia menjelaskan bahwa salah satu dari orang yang dibunuh si kakek adalah kakaknya. “Abangku orang yang dipotong juga waktu itu “ katanya.

Si kakek diam. Perempuan setengah baya itu pun hanya mengejapkan matanya berkali kali. Si Adi menutup mulutnya sekilas, lalu kembali melihat ke mereka berdua. Si kakek beberapa kali melihat ke kiri kamera. Mungkin ada jam di situ, atau obyek lainnya. Kamera close up ke Adi yang bertanya ke perempuan tersebut. “Kakak tahu kalau ayah dulu seorang pembunuh” katanya. Si perempuan tersebut diam tak menjawab. Sesaat kemudian ia menjelaskan bahwa baru siang ini ia tahu siapa ayahnya yang sebenarnya. Seorang pembunuh keji pada masanya.
Full shot lagi. Mereka bertiga dalam diam. Hening. Saya sesak nafas dan hampir muntah. Kamera ke close up si perempuan tersebut. “Kita sepertinya kenal ya”, katanya ke Adi. Adi menjawab dengan senyum getir bahwa rasa-rasanya kenal. Ia segera beranjak dari kursinya dan memeluk perempuan itu sambil keduanya menangis. “Kita saudara ya..maafkan ayah saya”.
Saya pun muntah.
Film ini berhasil membuat saya merasakan kengerian, kepedihan dan rasa hening yang menyesakkan. Cara Adi untuk melakukan wawancara yang menekan, lugas buat saya itu adalah perjuangan luar biasa. Ia adalah korban. Ayahnya yang pikun dan lupa ingatan setelah kakaknya hilang, dan ibunya yang tetap menanggung duka dan dendam berkepanjangan. Sementara ia harus “menggantikan” fungsi Joshua Oppenheimer untuk membuka tabir semua kekejaman manusia yang melakukan aksi kekejian jaman tersebut, termasuk ke kakaknya.
Ia harus mewancarai paman adik ibunya yang menjadi penjaga penjara. Si paman tahu bahwa salah satu keponakannya ada di dalam penjara dan akan dihabisi nyawanya. Tetapi kuasa di atas kuasa tidak mampu memberi energi keberanian, sekedar untuk mengabarkan ke adik perempuannya kalau si keponakan ada di penjara. Dan dalam wawancara itupun ia menyatakan bahwa “siapalah saya”. Jawaban khas masyarakat yang tertindas.
Beberapa kali ia datang mewakili sosok Joshua ke berbagai nara sumber. Dan yang ia datangi adalah orang yang tahu peran atau bahkan ikut membunuh kakaknya sendiri. Sebagai pewancara – subyek – ia harus tetap konsisten dengan logika bertanya tanpa harus larut dalam emosi yang berkepanjangan. Saya hanya membayangkan kalau ini terjadi pada saya. Tahu di depan mata pembunuh kakak sendiri, sementara ayah dalam kondisi antara hidup dan mati.
Semua subyek dalam film ini adalah korban. Tetapi dalam film ini saya tidak menemukan siapa penyebab itu semua.

Tabik..



Rabu, 16 Desember 2015

Film NAY : Memindahkan Ruang Jiwa ke Mini Cooper !


 
Kemarin saya menonton Film Nay di Paviliun 28 Petogogan. Ternyata ada untungnya nonton di venue kecil tapi nyaman itu. Lebih intens dan meditatif (?). Saya tidak membayangkan jika nonton di bioskop dengan ragam penonton ( yang saya selalu mengistilahkannya sebagai gerombolan) yang tidak seide. Dalam waktu hitungan menit, melihat tokoh Nay yang ternyata hanya menyetir mobilnya memutari Sudirman, Kuningan, SCBD para penonton yang mulai bosan pasti sudah membuka gadget masing-masing dan tang ting tang ting. Nah di forum kemarin, semua takzim melihat ke layar di depan seperti umat yang mendengarkan pemuka agama ceramah.

Nay adalah perempuan matang. Mempunyai seorang pacar yang bernama Ben dan manager bernama Ajeng. Dalam sebuah perjalanan ia menelpon Ben untuk mengatakan bahwa dirinya hamil. Si Ben yang anak mami berusaha menjaga jarak atas terjadinya kehamilan tersebut. Ajeng yang tetap menginginkan karir Nay moncer, menelpon Ben dan keduanya sepakat untuk mengugurkan kandungan Nay.
Nay seperti melihat masa lalunya. Djenar dengan hebatnya menempatkan satu karakter Nay untuk mewakili dua karakter lainnya dalam konteks paralel. Ketika Nay melihat ke kirinya (atau kalau kita lihat filmnya ke kanan frame) itu adalah posisi gugatan sebagai Nay kekinian terhadap ibunya. Ketika Nay frontal ke kamera, ini adalah posisi Nay dalam menyikapi hidupnya sendiri. Nay melihat ke jendela atau ke kanan, Nay bertransformasi sebagai sosok ibunya yang cocomeo (istilah ini saya tidak ketemu bahasa Indonesianya) yang nasehat petatah petitihnya.
Penonton merasakan pemberontakan Nay dalam tiga konsep yang berbeda. Satu ruang kabin kecil mobil Mini Cooper ini menjadi ruang multi teater bagi Sha Ine Febrianti untuk menjadi tiga karakter yang sebenarnya tumpuk jadi satu : Nay. Ini adalah acrobat dramaturgi yang menarik. Artinya seorang Ine harus mengerti tentang frekwensi dramaturginya, karena ia tidak melakukan pola peran dengan lawan main. Ia yang paling mengerti dimana harus menjaga jarak emosi dengan sosok kanan, kiri atau ke depan (berdasarkan posisi kamera).
Menurut saya, ini kelebihan tetapi juga bisa menjadi kekurangan. Kelebihannya tentu adalah kebebasan interpertasi. Sha Ine Febrianti boleh berteriak, menangis atau tiba-tiba tertawa tanpa harus menala lawan mainnya. Kekurangannya adalah pola ini bisa menjadi jebakan ketika tempo dramaturgi yang dimainkannya tidak konstan, karena ini bukan sebuah panggung pertunjukan yang ritme emosionalnya bisa dijaga. Ini adalah sebuah film panjang dengan masa produksi shooting lima hari. Dan seorang Ine tidak tahu take mana yang harus dipakai sehingga ia tidak bisa mengatur pola tersebut.
Lagi-lagi Djenar yang jadi dirigen. Ia menjaga keseimbangan intensitas Ine yang terperangkap dalam tubuh Nay sama besarnya. Seolah olah, mereka adalah pasangan ganda pemain bulutangkis yang sama sama sudah mengerti kapan harus main lob panjang atau net halus di depan net.
Kameraman Ipung juga berhasil mencairkan ruangan mobil kecil itu menjadi ruang pertunjukan yang memukau. Saya tidakk berkomentar soal angle, karena itu ada dalam wilayah seorang kameraman. Tetapi kameranya efektif untuk mengerti kedalaman ruang psykhologis seorang Nay.
Wajar kalau film ini mendapatkan penghargaan di JogjaNETPAC Asean Film Festival 2015.
Tetapi yang paling impresif adalah ketika ada seorang remaja perempuan abg di belakang saya yang mengeluarkan statemen seperti ini : Saya baru sekali nonton film seperti ini. Saya senang karena film ini membuat saya berpikir..
Sama saya juga nak..

Tabik..



Sabtu, 12 Desember 2015

Film AISYAH BIARKAN KAMI BERSAUDARA : Proses yang belum selesai..


Dua minggu ini shooting film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara selesai. Hampir tiap hari anak-anak di Kupang main sms dan kadang bertelpon. “Om lagi apa ? Om Herwin sedang kemana ? Kaka Bella shooting kah ?”.Macam-macam pertanyaannya. Mereka pikir kami ini sering bertemu muka.
Tiba-tiba serentetan banyak peristiwa dari kejadian yang belum sebulan berlangsung bergulir lagi. Dari awal hari pertama yang ditandai dengan tragedy bensin hilang di Atambua, sampai mis komunikasi antar kru. Tetapi justru itulah romantika kerja. Semakin banyak masalah sepertinya semakin oke. Istilah saya adalah, persoalan itu muncul karena banyaknya kepentingan dan cinta di dalamnya. Kalau tidak cinta, maka orang akan cenderung diam-diam saja. Dalam konteks ini, setiap kru pasti criwis dan ngomong kiri kanan. Entah soal produksi atau proses kreatifnya.
Bagi sebagian kru selesai shooting berarti pekerjaan selesai. Mereka bisa menanti pekerjaan lainnya, atau mulai telpon sana sini untuk mencari informasi. Tetapi buat kru yang lainnya, proses lainnya masih menanti. Masih ada editing, scoring musik, banyak lagi. Kadang-kadang justru lebih melelahkan dari shootingnya. Shooting itu menyenangkan. Bisa ledek-ledekan, pacar-pacaran, sok berantem, bikin drama dan lain sebagainya. Paska produksi itu hanya bertiga atau berempat. Yang pasti ada Wawan Wibowo si editor yang melotot terus di depan monitor. Di belakang dia bisa ada saya, Herwin Novianto, Imanullah yang bisa jadi sok serius diskusi habis itu bablas tidur !
Tetapi editing tidak kalah serunya. Skenario yang rapi jail serius dibuat bisa jadi morat marit di tangan editor.  Ada seorang editor senior yang tidak perlu disebut namanya sampai-sampai merasa tidak perlu baca skenario. “Saya cuma butuh cerita dari sutradara. Ketika gambaran itu ada di kepala, tangan saya mulai memotong gambar”. Hasilnya ? Tetap luar biasa. Si bapak editor sepuh ini berkali-kali meraih penghargaan di berbagai festival film Indonesia dan dunia.

Itulah..ini saya ada video behind the scene film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. Kameramannya Rizky Babe, kadang-kadang Fey Hero si 1st AD. Pokoknya gotong royong !

Tabik..

Sabtu, 05 Desember 2015

film AISYAH BIARKAN KAMI BERSAUDARA : ARTISTIK ITU HARUS FUNGSIONAL..


Landscape yang cantik, lokasi yang sesuai dengan keinginan. Kalau sang DoP Edi Mikael Santosa bilang, taruh kamera sambil merem saja pasti bagus ! Saya setuju dengan statement kawan yang satu itu. Tetapi untuk kepraktisan menejemen produksi harus ada perubahan sana sini yang harus dilakukan.
Ada tiga set utama di film ini. Yaitu kampung Dusun Derok, sekolah dasar dan pasar. Kampung Dusun Derok sendiri ada rumah kepala dusun, rumah Lordis Defam, rumah nenek Siku dan gua Maria. Set rumah kepala dusun memang aslinya milik kepala Dusun. Penata artistic film ini Andromeda hampir tidak melakukan apa-apa terhadap bentuk dan isinya. Menurut dia, konsep film ini memang as it is (saya selalu menterjemahkan konsep ini bersama Herwin Novianto sang sutradara sebagai sak onone atau apa adanya). Tetapi ia tetap menginginkan adanya perubahan letak yang sifatnya lebih mempermudah kerja kamera. Ini menariknya kerja di menejemen film. Memang ago dan personalitas tinggi, malah kadang-kadang tidak bisa ditekuk. Tetapi ketika menghadapi kepentingan bersama untuk kebutuhan materi artistic, siapapun dalam elemen produksi akan duduk bersama dan memecahkan persoalan tersebut.

Sang penata artistik ini mendesain ulang beberapa lokasi sesuai kebutuhan angle dan penempatan lighting. Satu persatu tanpa terkecuali. Ia  langsung menempatkan beberapa props di tempat yang sudah disetnya itu. Andromeda beberapa kali sempat meminta pemilik rumah asli untuk meletakkan benda yang dipilihnya. “Saya punya taste menempatkan benda karena referensi estetik. Ibu Patricia (nama pemilik rumah asli) mempunyai pertimbangan fungsi dan kebiasaan, bukan estetika. Itu yang saya maui”. Hasilnya luar biasa. Ini kolaborasi antara penata artistic yang sebentar lagi moncer ini dengan kebiasaan orang-orang setempat yang menempatkan semua benda berdasarkan fungsi dasarnya. Andromeda adalah penata artistic yang detail dan cermat. Sayangnya ia terlalu banyak ngemil dan jajan, makanya sering diare !

Rumah yang sudah cantik akan dibagi menjadi beberapa bagian yang knock down. Rumah adat di sana aslinya per dinding dibuat dari bebak, yakni potongan tipis pohon lontar yang disatukan oleh tali yang juga dibuat oleh bagian pohon lontar juga. Untuk kepentingan gerak kamera dan penataan lampu, Andromeda akan membuat masing-masing dinding tersebut dengan gampang akan dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan kamera.

Ada dua hal penting dalam konsep penataan artistik film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. Tokoh Aisyah lahir dan besar di daerah Ciwidey yang serba hijau dan gampang air. Sejuk dan adem. Sementara ia mengajar di daerah yang kering, coklat dan susah air. Rumah Aisyah mencerminkan kehangatan sebuah keluarga yang utuh, tanpa ayahnya yang sudah meninggal. Sementara tempat tinggalnya di dusun Derok adalah cermin “kesendirian” dan asing.

Andromeda berhasil memunculkan imej itu tanpa harus melakukan banyak perubahan. Istilah saya adalah “meletakkan kembali posisinya pada fungsi dan estetija yang tepat”.
Ya untuk jelasnya, kita nonton nanti filmnya. Untuk membayangkan bagaimana kerja keras si penata artistic yang tahun depan nikah ini, pelototi saja drawing dan desain setnya..
Tabik…

Jumat, 04 Desember 2015

Film AISYAH BIARKAN KAMI BERSAUDARA : (Lagi) Tentang Akting Anak-anak...


Saya masih menulis tentang produksi film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. Banyak yang bisa diceritakan. Sekedar untuk katarsis biar nggak jadi uneg-uneg terselubung atau kalau mau sok gagah biar jado pelajaran bersama. Toh yang namanya produksi film (atau apapun) sudah menjadi darah daging kita semua.
Tulisan lalu saya sudah sempat singgung sedikit soal talent. Khususnya pemain local (saya sebenarnya tidak begitu suka dengan istilah local) yang terlibat dalam produksi film ini. Bahwa mereka sebenarnya tidak pernah menggeluti dunia acting, bagaimana mereka bisa ditemukan oleh casting director, saya harus angkat topi untuk Agus Gondrong sang pemilih pemain ini. Bapak gondrong ini ditanam produksi hampir satu setengah bulan untuk mencari calon pemain berdasarkan criteria yang dibutuhkan. Beliau benar-benar mencari dalam arti sebenarnya. Masuk ke sekolah-sekolah, berjalan-jalan di sepanjang trotoar Kupang sambil menawari anak-anak untuk casting. Untungnya dia tidak dicurigai. Ada beberapa anak yang cerita hidupnya hampir mirip dengan karakter yang dimainkannya. Siku Tavarez  yang memang seorang anak yang yatim. Atau tokoh Lordis Defam yang ditemukan ketika ia sedang membawa ikan yang ditombaknya sendiri di pantai !

Diskusi panjang tentang penokohan ini mendiskripsikan setiap karakter berdasarkan konteks dan karakter local. Artinya dengan mengambil lokasi dan materi di NTT maka tidak mungkin mencari pemain dengan latarbelakang tradisi yang berbeda. Kalau mau gampang, tinggal casting pemain dengan warna kulit dan rambut seperti anak NTT di Jakarta. Mereka pasti lebih cair untuk acting, karena sudah terbiasa untuk casting. Tetapi bahasa tubuh karena kultur dan lingkup geografis membuat mereka tetap berbeda. 

Pertama bahasa. Film ini sepakat untuk beberapa scene memakai bahasa Tetun. Anak-anak ini berasal dari Kupang dengan latarbelakang tradisi timor yang berbeda. Ada yang berayahkan Flores beribu Sumba, ada yang beribu alor berbapak papua. Tetapi mereka dengan konsisten mau untuk bekerja keras belajar bahasa Tetun yang audzubillah sulitnya ! Kata  fa dan fa’ itu jika tidak diucapkan dengan tepat artinya bisa beda jauh. Yang satu jalan yang satunya pisang !
Kedua, bahasa tubuh. Saya selalu terpesona dengan bahasa tubuh personal yang dimiliki oleh entis bangsa ini. Anak Minang berbeda dengan anak Jawa. Anak Timor beda bahasa tubuh dengan putra Papua. Banyak adegan dalam film ini yang tiba-tiba saja diwarnai oleh atraksi bahasa tubuh yang beraneka ragam. Gestur Laudya Cynthia Bella yang koreografis (ini istilah saya sendiri. Maksudnya adalah bagaimana ia mempolakan diri sebagai seseorang berdasarkan karakter, dengan bahasan pola gerak dramaturgi teks book) disejajarkan dengan kemarahan seorang Siku Tavarez yang melihat sang ibu guru dipermalukan oleh temannya sendiri. Ia tidak merasa perlu berteriak. Ia hanya melihat ke lawan mainnya dengan tajam, sedikit menundukkan kepala dan dengan langkah tegap menuju Lordis Defam (scene 99).

Yang paling gampang. Banyak adegan lari-lari di padang savanna, baik di tanah maupun di aspal jalanan. Suhu rata-rata 37 derajad celcius. Keringat sudah berubah menjadi butiran garam halus. Kru sudah mulai blingsatan kepanasan dari jam delapan pagi. Semua memakai baju tutup komplit dari leher sampai ujung kaki. Panas dan keringatan.
Tapi tidak buat anak-anak ini. Mereka tetap konsisten untuk patuh dipatronnya sebagai pemain. Disuruh apa saja oke tanpa komplain ini itu. Dicerita ini, mereka bersekolah tanpa memakai alas kaki. Sepanjang hari ketika take atau tidak mereka tidak mau memakai alas kaki. Alasannya luar biasa : biar sama rasanya pas shooting dan pas tidak shooting !
Anak anak ini mengajarkan kepada kita arti konsistensi dan daya tahan. Sesuatu yang hampir hilang pun bagi para aktor dan aktris senior kita.

Tabik..

Rabu, 02 Desember 2015

Film AISYAH BIARKAN KAMI BERSAUDARA : CERITA TENTANG PRODUKSI..


Produksi di luar Jawa ? Berapa lama ? Lalu banyak pertanyaan lain yang intinya serba menyenangkan. Suasana baru, pemandangan baru dan baru-baru lainnya. Habit kru kalau tiba-tiba saja mendapatkan pekerjaan di luar Jawa pasti gegap gempita. Intinya : happy..
Tetapi nanti dulu. Mari kita deskripsikan satu-persatu persoalan yang akan muncul jika kita shooting di luar Jawa. Bagaimana lokasinya, adat istiadatnya (lihat tulisan saya sebelumnya soal langgar melanggar adat), makannya, penginapan, transportasi dan sebagainya. Sebagian besar akan angkat bicara, toh ada orang produksi ?
Kita sudah terbiasa produksi di Jawa. Maka hampir ditiap kota kita mempunyai kontak person local. Yang mampu menyediakan banyak hal, mulai dari penginapan, talent, transportasi sampai tukang pijit. Mereka juga mengerti kebiasaan orang film dari tingkatan buruh kaya saya sampai majikan film kelas berat. Dalam artian, mereka mampu dalam waktu singkat dan cepat menyediakan apa yang kita minta. Misalnya, malam ini jam 00.29 (bener ni, saya menulis catatan ini jam segitu) sutradara tiba-tiba dapat ide untuk mencari props tambahan kerbau warna biru. Dan tentu saja ordernya adalah : gue nggak mau tahu gimana caranya (harus pake gue lo ya. Kalau pake saya kesannya kurang personal). Dalam waktu yang cepat order itu langsung turun instruksi ke produser, diteruskan ke jajaran terkait. Misalnya kalau berkaitan dengan departemen artistic yang langsung ke ketua grupnya. Ketua grup langsung kontak ke kontak person local ini. Perintahnya tidak jauh beda juga.
Apa yang terjadi kalau hal itu dilakukan di luar Jawa ? Inilah yang terjadi. Shooting PSA Sampoerna. Sutradara Garin Nugroho, Produser Tino Saroengalo, kameraman Monod Nurhidayat. Adegannya berdasarkan storyboard ratusan kuda berlari di savanna. Sampai satu hari menjelang shooting hanya tersedia puluhan kuda.  Si sutradara tentu saja tidak bisa pake lu lu gue gue wong medok Jawa. Tetapi intinya sama. “Pokoknya besok ada kuda banyak. Savana harus banyak kuda”.
Dan malam itu Noel Radjapono, unit menejer bersama kontak person local Ibnu Abdullah ketemu seorang pedagang arab Sumba yang kabarnya kudanya ratusan. Kenapa hanya kabar ? Ya karena tidak seorangpun yang tahu pasti jumlah kudanya yang bertebaran di savanna. Serba singkat, si arab mengiyakan permintaan ini. Paginya, ratusan kuda tersedia di savanna. Mungkin saja kuda siluman !
Ngomong penginapan sekarang. Beberapa daerah saat ini sudah mempunyai hotel atau penginapan yang proper. Memenuhi persyaratan itu artinya ada pelayanan makan malam, laundry, kamar bersih, toilet oke, dan lain lainnya. Tetapi masih banyak daerah yang tetap saja pelayanan hotelnya hampir tidak berubah, termasuk orang-orangnya. Kami nginap di hotel yang lumayan ngetop di Atambua. Semua oke kecuali pelayanan ! Saya sudah merasakan empuknya tempat tidur hotel ini sejak 2008, dan kenal dengan hampir semua awak hotel ini. Saking kenalnya , mereka menganggap saya menjadi bagian dari mereka. Ini contohnya. Kalau saya pesan kopi atau nasi goreng, mereka jawab dengan akrabnya : Silahkan bapa bikin sendiri. Bahan-bahan di dapur lengkap !
Soal transportasi. Kita terbiasa bangun dini hari dan berangkat menjelang subuh. Ini oke untuk siapapun yang terbiasa pola produksi spartan ini di Jakarta atau tempat yang terbiasa produksi. Di luar Jawa ? Ini pekerjaan rumah lagi. Sopir mempunyai jam kerja. Seperti pegawai kantor begitulah. Jam delapan pagi sampai jam delapan malam. Ketika kita butuh mereka untuk bangun menjelang dini hari, masalah muncul.
Di produksi Film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara, semua sopir dari Kupang dan Atambua. Jam kerja mereka jelas, tetapi tidak dari dini hari. Ketika mereka harus bangun pada jam kerja yang tidak umum, kening mengkerut. Inilah pintar-pintarnya kita untuk membuat mereka bangun. Pertama, sopir diinapkan di tempat yang sama dengan kru. Dengan catatan kalau ada cukup kamar di hotel yang bersangkutan. Kita tinggal pilih satu sopir sebagai koordinator untuk menggedor pintu mereka, dan mengurus bon-bon bensin. Kalau mereka harus menginap di luar hotel kru, harus ada orang dari produksi yang rela menjadi tukang gedor. Cara ini berhasil.
Kedua, kalau cara pertama dan kedua gagal maka relakanlah kita sebagai buruh film ini sekaligus sebagai sopir. Yakni menyetir mobil masing-masing departemen ke lokasi, lalu kita menyuruh salah satu sopir untuk menjemput mereka ke penginapan. Agak repot diawal tetapi biasanya sukses. Hari berikutnya mereka akan bisa bangun pagi setelah melihat system kerja yang mengharuskan bangun pagi ini.
Begitulah.Untuk departemen produksi, cerita bisa makin berderet dan banyak. Tunggu saja..

Tabik..

Senin, 30 November 2015

Film AISYAH BIARKAN KAMI BERSAUDARA : Tahu Adat lah Kita ini ...


Setiap wilayah mempunyai tata cara dan tradisi tersendiri. Bagi siapapun yang datang wajib untuk taat dan menuruti adat istiadat dan tradisi tersebut. Nah, ada kejadian yang seharusnya tidak boleh terjadi. Sedikit memalukan, tetapi harus diceritakan untuk sebuah proses pembelajaran bersama tentunya.
Shooting Film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara ini mengambil lokasi di tempat yang masih sarat dengan adat istiadat dan tradisi yakni dusun Derok kabupaten Timur Tengah Utara. Menurut saya, adat dan tradisi di sini secara keseharian lebih rumit dan komplit dibandingkan di Bali. Hal yang kecil saja mereka mengisyaratkan sebuah upacara. Misalnya upacara untuk mengambil madu di halaman rumah mereka sendiri atau memetik buah di pohon !
Hari itu kami datang dengan rombongan. Ada seorang pengantar putra daerah bernama Erwin Usboko yang sudah terlebih dahulu kulanuwun mewakili kami. Ini salahnya ! Seharusnya salah satu diantara kami ikut datang kulanuwun sebelum rombongan besar datang. Satu hal lagi. Pak Hamdhani Koestoro sang EP ingin agar slametan produksi dilakukan ditempat yang sama. Makan besar sekampung dalam arti sebenarnya.
Ini yang harusnya dilakukan. Kami sebagai tamu seharusnya “menyerahkan” terlebih dahulu materi slametan tersebut ke kepala dusun dan adat. Kemudian mereka yang menyajikannya kepada kami, karena apapun namanya kami ini tamu yang datang. Logika mereka simpel dan benar. Wong tamu kok bawa makanan ?
Inilah yang kemudian terjadi. Setelah penyambutan tamu dengan tarian Likurai dan Tebe barengan, tibalah saat makan-makan. Kami mempersilahkan para tetua dusun dan adat untuk ikut makan. Tetapi dengan halus mereka menampik. Mereka tetap ada di sudut tempat slametan, tetap dengan muka ramah dan terbuka untuk berbicara. Saya mulai bertanya-tanya tentang reaksi mereka tersebut. 

Jawaban muncul dari opa Jokobus Kono sang tetua adat. Beliau menerangkan bahwa kami sebagai rombongan sebenarnya melakukan “kesalahan” adat yakni tidak kulanuwun sendiri tanpa harus memakai perantara. Karena kami ini tamu, sementara perantara hanyalah makelar saja. Duh..ini dia. Saya buru-buru menanyakan ke tetua adat apa yang harus kami lakukan.
Ya..harus ada upacara permintaan maaf. Istilahnya kami harus meminta maaf kepada tuan rumah atas kekhilafan ini, khususnya kepada para leluhur kampung dan tetua dusun serta adat yang hadir. Jadilah. Kami harus melakukan upacara potong ayam di depan rumah adat. Dalam bahasa Tetun-nya Katakasara Tuipat Pata pata yaitu persembahan potong ayam jantan putih untuk tetua adat. Kenapa harus jantan dan putih. Jantang adalah lambang kekuatan sedangkan putih melambangkan kesucian kedua belah pihak. Tamu yang dianggap melanggar adat sebenarnya mempunyai maksud baik, sementara tuan rumah tetap memaafkannya dengan tulus hati.

Ayam jantan putih yang telah disembelih tersebut diupacarai di depan rumah adat, tepatnya di batu persembahan yang dinamakan Aitos. Setelah disembelih, darahnya dicipratkan di Aitos, sebagian lagi menjadi bagian dari sesaji yang diletakkan di dalam rumah adat. Bersama darah tersebut, ada juga klewang, tempat pinang sirih perempuan yang disebut Ko’e mama dan tempat pinang sirih laki-laki yang disebut kakalak.

Setelah semuanya selesai, ayam akan dibakar (ala kadarnya) dan kita boleh makan bersama. Hebatnya, mereka bilang bahwa ayam tersebut disembelih dengan adat istiadat mereka (maksudnya nggak pake Bismilah) jadi bagi pemeluk agama Islam boleh tidak menyentuh ayah tersebut dan menggantinya dengan mengunyah pinang sirih.
Dan selesailah upacara penutup ini, yang mereka sebut sebagai Lolekarin harekarin. Di ending selain kudapan ayam bakar rata asap itu adalah – tentu saja – pinang sirih dan sopi. Sopi adalah arak yang dibuat dari buah lontar. Rasanya ya seperti arak tradisional begitulah.
Begitulah. Rasanya detik ke detik itu sebuah pembelajaran yang tidak pernah selesai. Sehebat apapun kita ini..

Tabik…