Kamis, 06 Oktober 2016

NICK CARTER DAN EREKSI BERJAMAAH..



Novel Nick Carter terbit di Amerika Serikat tahun 1964 oleh Awards Book. Settingnya banyak berlatar belakang perang dingin antara AS dan Uni Soviet. Diceritakan Nick Carter adalah agen AXE yang kerap terlibat asmara. Ada 261 judul petualangan Nick Carter yang terbit dari tahun 1964-1990. Tapi tak jelas siapa pengarangnya.
Saya adalah salah satu orang yang pernah hidup bersama Nick Carter. Dari novelnya saya mengenal kata-kata menggelinjang, melenguh (koyo kebo ya ?) dan istilah aneh-aneh lain yang konotasinya ke seks. Siapapun yang pernah mengalami generasi keemasan tahun delapan puluhan pasti kenal pistol Luger Wihelmina dan pisau tipis Hugo Stiletto. Sampai-sampai jaman SMP saya sampai bikin sendiri pistol-pistolan dan pisau dari kayu dan tega-tegaan saya tulisi Luger dan Hugo Stiletto.
Novel itu beredar dari kelas ke kelas dari siswa ke siswa. Biasanya dari tangan pertama ke tangan terakhirnya – bisa jadi tangan terakhir itu nomer ke duapuluh atau lebih – jumlah halamannya sudah banyak berkurang. Kalaupun ada pasti lengket di sana-sini, yang jelas bukan karena lem. Berkurangnya halaman itu karena banyak pembaca yang dengan kreatif mengkoleksi halaman yang ada adegan syurnya. Disobek, lalu disambung dengan halaman lain dari novel yang sama dengan cerita yang berbeda. Pasti saja tidak ada ceritanya. Buka halaman itu langsung menggelinjanglah pokoknya !

Bagi para laki-laki tanggung waktu itu, membaca Nick Carter itu kebanggaan. Apalagi kalau bisa menceritakan berapa judul novel yang sudah dibaca. Dari tiga novel Nick Carter bisa menjadi biang diskusi seru layaknya apresiasi satra kelas tinggi. Satu orang bisa menganalisa tingkat kesaruannya, orang lain bisa menganalisa bagaimana Nick Carter melumpuhkan musuh-musuhnya. Dan itu bisa jadi diskusi semalaman..
Tidak biasa bagi pembaca novel ini membelinya di toko buku. Di kota tempat saya tinggal di Salatiga, tahun-tahun itu hanya ada tiga persewaan buku yang secara rutin mengupdate koleksi novel-novelnya. Dan bagi para fansnya, biasanya mereka main belakang alias kongkalikong dengan mbak penjaga persewaan. Biasanya dengan main kedip untuk “menyimpan” novel yang baru datang tersebut, untuk disewa duluan. Seperti yang saya tulis di atas, makin ketinggalan kita menyewa novel itu, makin berantakan isinya dan bubrah kertas-kertasnya !
Ada satu hal absurd yang kalau saya pikir-pikir sekarang hal itu tidak masuk akal. Saya juga tidak tahu apakah hal itu terjadi di kota selain Salatiga yang kecil mungil dan waktu itu cuma satu kecamatan. Yakni, serombongan anak (laki-laki tentu saja), akan membaca novel tersebut secara berurutan. Biasanya selama dua hari. Pada hari ketiga, mereka akan mendiskusikan halaman berapa yang paling mengacengkan (mohon maaf, saya tidak ketemu kata-kata yang paling tepat). Ketika sudah terjadi kesepakatan soal halaman, salah satu dari mereka akan membacakan halaman tersebut. Nah, para pendengar biasanya akan menyimak pembaca novel tersebut dengan sepenuh hati dan setakzim-takzimnya.
Masing-masing dari mereka akan saling melirik selangkangan teman kiri dan kanannya. Untuk membuktikan apakah halaman tersebut memang paling saru dibandingkan halaman lainnya. Untungnya, kami semua masih bercelana. Biasanya ada satu dua teman yang kemudian setengah berlari meninggalkan tempat tersebut.
Beli bakso !

Minggu, 02 Oktober 2016

MAHABARATA VERSI JEPANG : SEBUAH PERTUNJUKAN YANG GAGAP



Menyaksikan sebuah pertunjukan – apapun – adalah proses transformasi nilai dan gagasan. Saya juga mempercayainya sebagai bagian dari komunikasi yang menyampaikan sebuah pesan. Tidak harus verbal dengan kalimat atau dialog yang mudah dimengerti, tetapi bisa jadi gestur yang universal. Ini soal kesepakapatan saja. Misalnya ketika puluhan tahun lalu kita menyaksikan Teater SAE nya Budi S. Otong, maka pemahaman kata sebagai bahasan utama akan gugur seketika. Demikian juga ketika kita menyaksikan Teater Garasi. Pemahaman teks gerak menjadi penting dan dominan. Kata kuncinya adalah kesepakatan !

Menyaksikan pertunjukan kolaborasi pasti menjanjikan sesuatu. Ada tabrakan yang bisa jadi friksi yang tetap menarik dalam bingkai estetika, atau kecelakaan kreatif lainnya. Dan saya menjadi saksi berbagai tabrakan budaya dan friksi dalam konteks pertunjukan ini berkali-kali. Hasilnya adalah orgasme estetika. Pulang dengan rasa yang penuh, dengan berkali-kali mencoba menafsirkan ulang betapa waskitanya sang pelaku atau kreator yang bersangkutan.

Tetapi saya harus kecewa ketika melihat pertunjukan Mahabharata Part 3 Kurusetra War yang berlangsung Jumat lalu di Grha Bhakti Budaya TIM. Saya mulai berjarak ketika ada sebuah layar putih terbentang di samping kiri panggung. Fungsinya cukup jelas, bahwa layar putih itu pasti untuk terjemahan. Ketika saya membaca brosur lebih detail, ternyata memang repertoar ini akan dimainkan oleh beberapa aktor dari empat negara.

Buat saya epos Mahabarata tidak sekedar lakon. Ia adalah representasi kehidupan peradaban itu sendiri. Saya mengenal cerita ini seperti melihat telapak tangan sendiri. Ibu saya memperkenalkan cerita ini dari umur tujuh tahun. Ada beberapa bagian yang membuat saya tertawa, atau luruh sedih dan pedih. Tetapi inilah interpertasi Mahabarata lintas budaya ini.

Buat saya, inilah interpertasi dari sebuah lakon yang jatuhnya hanya potongan per episode yang kehilangan makna dan cerita. Sementara penonton hanya dibawa menjelajahi berbagai bagian penting dari lakon ini lewat penggalan-penggalan yang diterjemahkan secara serampangan dalam sebuah layar putih. Butuh kesabaran tingkat tinggi untuk mengerti dan memahami adegan per adegan yang harus diinterupsi bacaan sub title itu.


Awalnya saya berpikir bahwa ini adalah sebuah teater gerak. Karena ada Teater Garasi di dalam proyek ini. Beberapa menit kemudian konsentrasi saya buyar karena tidak ada konsistensi antara konfigurasi gerak tari dan sekedar “gerakan”. Saya memaksa untuk membuka brosur lagi diantara keremangan lampu dan mata saya yang mulai lamur. Baru tahu bahwa rata-rata dari para penampil adalah penari yang mumpuni.

Lalu, kesepakatan apa yang telah dibangun dari kolaborasi ini ? Apakah sebuah pentas tari yang multi gerak, ataukah sekedar penampilan dari komposisi gerak bersama yang acuannya tidak jelas. Beberapa gerakan dari para penampil sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka adalah penari. Lagi-lagi, saya gagal menangkap esensi dari total pertunjukan ini. Beberapa komposisi gerak dipaksakan untuk sekedar menjaga ritme dari adegan satu ke adegan berikutnya. Dan berkali-kali pola bloking keluar masuk – dari kanan panggung ke kiri dan sebaliknya – sama sekali tidak bicara apa-apa.

Hal tersebut ditambah dengan musik yang buat saya kehilangan esensi. Bisa jadi saya yang gagap menangkap kesan musik yang ingin ditampilkan. Tetapi jujur, sepanjang pertunjukan, saya tidak menganggap bahwa musik itu ada. Kadang-kadang muncul dengan intensitas yang berlebihan, misalnya volumenya meninggi, tetapi kadang-kadang lamat-lamat yang hampir tidak kedengaran. Jadi sebenarnya musik perlu atau tidak dalam konteks pertunjukan ini.

Saya tetap tidak mengerti untuk apa bahasa yang dipakai berbeda-beda. Untuk sisi komunikasi buat saya jelas gagal. Bagaimana kita bisa menikmati sebuah esensi pertunjukan jika mata harus jelalatan ke tengah panggung dan melirik ke kiri sekedar untuk tahu apa dialognya. Belum lagi, tokoh Bisma yang nyata-nyata memaksa untuk tetap berdialog dengan bahasa Indonesia.

Kalau boleh dipuji, hanya tata busana dan tata panggung yang menarik. Pemakaian materi lurik dengan potongan pola Jepang tiba-tiba memberikan catatan bahwa inilah Mahabarata versi Jepang. Mbak-mbak di belakang saya dari awal sudah criwis terus soal baju para penampil. Saya yang mati-matian melotot mata dan pasang telinga untuk memahami apa yang ada di panggung, harus terganggu dengan mbak-mbak yang terus menerus komentar soal baju di atas panggung.

Tata panggung simpel saja. Latarbelakang hitam, dengan penempatan baju penampil dan kapstoknya. Saya kira ini juga cara untuk menghemat waktu pentas mengingat satu pemain bisa memainkan dua sampai tiga karakter yang berbeda.

Apa mau dikata. Kelebihan penonton dibandingkan kreator adalah kebebasan untuk berkomentar. Sebagai tontonan, Mahabarata Part 3 Kurusetra War ini tidak menjanjikan apa-apa. Tetapi, sutradara Hiroshi Koike berhasil menjadikan repertoar ini sebagai etalase kolaboratif, meskipun berhenti hanya sebagai bentuk saja.

Foto : Joko Harismoyo

Selasa, 27 September 2016

JAZZ DAN JAMU DI PAVILIUN 28



Tiba-tiba saja kita bisa mendengar komposisi rumit Charlie Parker. Atau scat singing-nya John Paul Larkin. Dan jangan kaget, mereka yang memainkan jazz standar secara fasih itu bukanlah musisi professional yang malang melintang di berbagai festival jazz yang semakin semarak di negeri ini. Mereka adalah anak-anak muda – benar-benar seumuran anak saya – yang fasih dan fine fine saja memainkan musik itu.

Muda dan culun banget. Buat anak-anak ini jazz bukan lagi identik dengan pola penampil yang bapak-bapak atau om-om dan tante-tante. Ada yang bertopi bisball dan sepatu kanvas, menenteng alat musik masing-masing. Ketika saling ketemu mereka akan main tos-tosan atau main peluk ala musisi hip-hop. Baru berasa kalau keterampilan mereka di atas rata rata adalah ketika alat musik ada di tangan mereka masing-masing.

Dan satu kejutan lagi. Sambil memainkan musik yang kapitalis ini, mereka akan memesan berbagai makanan dan minuman. Jangan heran kalau si pemain trumpet akan berhenti diantara jeda mainnya dan berteriak ke bar : mas, beras kencur pake es ! Ini kontemper banget. Sampai –sampai salah satu teman yang menjadi kolumnis tetap di majalah musik di Jepang terheran-heran. Melihat ulah anak-anak ini yang main jazz sambil minum jamu.

Kejadian seperti ini bisa kita temukan dengan mudah setiap hari Kamis di Paviliun 28. Sebuah rumah seni yang mempertemukan banyak pekerja kreatif di dalamnya. Ada beberapa ruangan yang bisa dijadikan tempat diskusi terbatas, sebuah ruang pemutaran film yang representatif dengan 40 tempat duduk, dan di ujung ruangan ada perangkat musik. Ada beberapa jenis makanan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain, misalnya bestik kambing atau nasi krengseng. Ada deretan menu jamu yang bentukannya beda dengan ramuan ibu-ibu gendong atau yang biasa dikenal oleh generasi akhir 80-an. Saya juga barusan belakangan tahu kalau jamu mode baru itu olahan dari berbagai materi baku yang dikombinasikan. Istilahnya fussion. Tahun delapan puluhan istilah fussion nyantolnya ya lagi-lagi ke musik jazz.

Tempat ini ada karena nama Eugene Panji dan Nova Dewi. Nama pertama adalah seorang pekerja kreatif, yang eksplorasi estetikanya melintang dari musik sampai film. Grafis sampai makanan. Semua makanan yang ada di tempat ini adalah hasil eksplorasinya dalam menjelajah rasa. Ia memadukan cita rasa local dengan berbagai pendekatan yang hasilnya adalah rasa local dengan bentukan universal.

Nama kedua Nova Dewi adalah penemu dari racikan jamu rasa jazz tadi. Ada misalnya green tamarind. Namanya keren tapi coba dirasakan betul. Itu asem jawa yang campur bawur dengan daun-daunan lainnya. Saya tidak bisa mendiskripsikan secara detail, nanti pada bikin sendiri. Ada juga jamu standard seperti Tolak Angin, Jamu buat pegel-pegel dan capek.

Balik lagi ke musiknya. Setiap bulan ada acara Sister Hoodgigs (moga-moga tulisannya bener). Semua acara musical yang tema besarnya isu perempuan. Menariknya adalah, hampir setiap bulan pasti ada keluarga yang mengajak putra-putrinya menikmati acara ini. Sementara orang tuanya menikmati musik sambil minum jamu, anak-anaknya lesehan di depan penampil asyik sendiri dengan pastel dan pinsil warna. Ketika tiba giliran orang  tua mereka tampil, si anak-anak ini dengan takzim melihat penampilannya. Susah dijelaskan tempat macam apa ini. Tetapi percayalah, siapapun yang masuk ke tempat ini, akan keluar dengan keinginan untuk melakukan aksi kreatif.

Makanya, setiap Kamis datang ke sini. Ada Agam Hamzah, gitaris kondang jazz yang menjadi kapten kesebelasan anak-anak ini. Dengan sabar ia membuka cara pandang anak muda tentang musik jazz, menemani mereka untuk jam session dan sesekali ngobrol ngalor ngidul soal politik. Oh iya, di depan piano hampir pasti ada pianist cantik berambut pendek. Dengan sandal jepit kulit dan baju katun putih tiba tiba memainkan komposisi nya Red Garland berjudul Alone with the Blues. Saya kehabisan kata-kata untuk memuji dia. Datang saja Kamis ini dan selanjutnya…

Sumber Foto : Kompas


Sabtu, 27 Agustus 2016

GUNAWAN RAHARJA: KATA BUTET KARTAREDJASA : URIP ITU PERLU DRAMA...

GUNAWAN RAHARJA: KATA BUTET KARTAREDJASA : URIP ITU PERLU DRAMA...: Cerita ini terjadi di bulan September 2008. Saya sedang membantu sutradara Herwin Novianto dan Produser Leni Lolan...

KATA BUTET KARTAREDJASA : URIP ITU PERLU DRAMA...




Cerita ini terjadi di bulan September 2008. Saya sedang membantu sutradara Herwin Novianto dan Produser Leni Lolang menggarap film pertama mereka berjudul JagadXCode. Jabatan yang srabutan membuat saya harus bergerak lintas sektoral. Mulai dari nulis ide kecil-kecilan sampai ngurusi lokasi.
Siang itu kami shooting di belakang Pasar Beringharjo. Ada warung makan kecil yang kemudian dijadikan set untuk sebuah adegan. Di sebelahnya, ada toko kelontong besar namanya Toko Progo. Di ujung toko tersebut, pangkalan angkutan menuju dan dari Pasar Beringharjo ke hampir semua wilayah di Yogyakarta.
Ada istilah anak sotingan yaitu buka tutup. Biasanya berkaitan dengan lokasi jalan umum atau fasilitas umum lainnya. Kalau kita mau take, jalan atau fasilitas tersebut disterilkan. Kami akan memasang dua orang dari departemen lokasi plus HT dan polisi (kalau ada). Mereka yang akan dikomando dari set kalau jalanan atau lokasi harus bersih dari aktivitas.
Kami sudah bersiap dari pagi. Adalah budayawan Butet Kartaredjasa yang kerso rawuh dan main sebagai cameo. Cuma satu scene. Butuh perjuangan untuk meminta beliau ini main di film tersebut. Saya sudah mengkontaknya setahun sebelumnya mengingat kesibukannya yang tiada tara. Latihan blocking dan lain-lain selesai, saatnya take. Baru dua tiga kali take tiba tiba ada suara di HT kalau ada seseorang teriak-teriak dan protes.
Ternyata si om pemilik Toko Progo yang marah-marah. Alasannya tokonya sepi karena jalanan depan toko diblok. Kami nggak nutup jalan, wong buka tutup kok. Tetapi daripada eyel-eyelan mending dicari jalan keluar yang paling pas. Awalnya, produksi mau ganti lokasi. Tetapi saya protes. Bukan apa-apa. Mas Butet ini jadwalnya luar biasa dan beliau sudah meluangkan waktunya hari itu full untuk shooting film ini. Kasak kusuk kami di set ternyata didengarnya. Dia mendekati saya terus bisik-bisik : nopo ? Serba singkat saya cerita, terus dia bilang : “Parani wae, siap-siap yo”. Kaget saya dengan kalimat siap-siap itu. Tetapi saya akhirnya mengekor dia untuk mendatangi pemilik Toko Progo tersebut.
Di depan si om yang langsung melanjutkan protesnya di depan mas Butet dan Saya. Kira-kira begini protesnya (dalam bahasa Indonesia, aslinya Jawa).
Om : Gimana coba pak Butet, toko ku jadi sepi gara-gara anak-anak sotingan itu. Nggak lapor ke aku juga. Kalau rugi siapa yang nanggung coba pak ?
(Saya diam saja sambil melihat ekspresi si Om dan mas Butet yang manggut-manggut. Tiba-tiba mas Butet nyumet rokok Djarum Super mengisapnya dengan nikmat. Saya mak plong. Ini sasmito kalau dia sudah ketemu jalan keluarnya).
Mas Butet : sik-sik sik om. Saya tak cerita dulu. Sebenarnya, ini bukan film biasa. Film ini pesannya njeng sultan buat pariwisata. Nahhh, aku ini mbantu mereka biar filmnya kethok jogja nya..
Adegan selanjutnya adalah penjelasan panjang lebar mas Butet soal film, budaya dan pariwisata. Tidak lama kemudian kalimat ini yang keluar dari si Om.
Om : Saya manut pak Butet saja. Tapi ya jangan lama-lama. Sepi toko ku pak !
(Mas Butet menoleh ke saya untuk meyakinkan beliau si Om itu soal waktu. Saya pun meyakinkan si om bahwa shooting cuma memakan waktu setengah hari. Tidak lama dan tidak terlalu menganggu).

Kami berdua berlalu dari ruangan Toko Progo. Mas Butet tiba-tiba bilang : Urip itu perlu drama, bung. Kowe sih ra tau latihan (kamu sih nggak pernah latihan). Saya diam sambil senyum-senyum. Mencoba untuk mencerna apa itu drama yang dimaksudkan. Ngobrol dengan priyayi yang satu ini selalu multimakna. Dagelannya kadang lekoh ( bahasa Indonesia nya apa ini ?) tetapi bisa berdiskusi panjang lebar sampai pagi untuk sesuatu yang serius.

Kemudian hari sampai detik ini saya memaknai drama sebagai cara mensikapi masalah. Bahwa semua masalah itu perlu othak athik dengan beragam pola. Tidak harus satu tambah satu sama dengan dua. Dua bisa jadi dari empat dikurangi dua. Seperti kasus  cerita di atas. Ternyata hanya perlu ngomong dan dijelaskan detail. Memang belakangan saya juga baru tahu kalau menejer lokasi tidak menjelaskan secara rinci soal aktivitas shooting di area tersebut.

Hidup memang drama. Sedih, pedih, senyum, bahagia, tertawa-tawa. Ada yang tulus ada yang rekayasa. Kalau kata Ahmad Albar, dunia ini panggung sandiwara. Kalau kata Butet Kartaredjasa, hidup ini perlu drama…

(Foto : Majalah Hidup)




Kamis, 25 Agustus 2016

NONTON PAMERAN LUKISAN..


Kebiasaan nonton pameran lukisan ini saya mulai sejak SMP. Ini gara-gara almarhum Semsar Siahaan mampir ke Salatiga. Awalnya ia memamerkan lukisannya di GPD (Gedung Pertemuan Daerah) Kotamadya Salatiga. Awalnya, saya nggak begitu tertarik. Ketika ada rombongan orang gondrong-gondrong memasuki gedung tersebut barulah saya mulai menoleh, sampai sepenting apa kok orang-orang gondrong masuk ke gedung tersebut.  Jangan nanya dulu, karena memang di depan gedung tersebut tidak ada tulisan publikasi macam-macam. Apalagi baliho atau woro-woro seperti jaman sekarang. Ketika masuk ke gedung, saya secara tidak sengaja bertemu dengan Semsar yang membagikan selebaran. Isinya, besok dia mau melukis live.

Paginya saya sudah nunggu apa itu melukis live, di depan GPD. Tiba-tiba Semsar keluar cuma pakai kancut warna putih, terus rambutnya riap-riapan dibiarkan terurai. Ada lembaran kain kanvas digelar sepanjang 10 meter di depan gedung tersebut. di ujung kain, ada puluhan tong – yang belakangan saya baru tahu isinya cat – dan sepeda motor trail. Tiba-tiba ia mencelupkan rambutnya ke tong tersebut, mengguyurkan sebagian dari cat dengan warna lain, dan gulung-gulung di kanvas panjang itu. Selanjutnya, dia nyetater trail, mak wrengggggg..nyengklak dan sepeda motor trail itu membuat kanvas jadi morak marik. Untungnya, saya tidak ngajak bapak. Bisa bisa beliau bilang : wong gendheng mbok tonton..

Kain kanvas sudah full cat. Coretan yang gak jelas, tetapi di mata saya membentuk konfigurasi estetika. Warna yang pating tumpuk, bentuk yang saling bertabrakan antara roda sepeda motor dan pola yang dibuat oleh olah tubuhnya di atas kanvas. Tetapi yang paling akhir ini super spektakuler. Semsar dan beberapa temannya membawa lukisan yang dipajang di dalam gedung tersebut keluar, dan ditumpuk begitu saja, lalu dibakar. Setelah itu, ia membentangkan kain yang bertuliskan : Matinya seni rupa Indonesia !

Saya nggak mudeng blas. Gimana nggak, anak SMP celana pendek biru. Belajar menggambar di sekolah pake pastel dan cat air yang selalu tabrakan warnanya. Menarik garis juga tidak pernah bisa lurus, kok nonton seni rupa. Tetapi pelan-pelan saya mengerti bahwa disamping seni tari (saya belajar menari sejak SD), ada bidang kesenian lain yang atraktif yaitu melukis. Tetapi fokusnya bukan ke aktivitasnya, lebih ke melihat apa yang mereka hasilkan, yaitu lukisannya.

Kebiasaan itu semakin meningkat frekwensinya ketika tinggal di Solo. Ada Taman Budaya Surakarta (TBS) yang hampir dua bulan sekali melakukan aktivitas pameran lukisan. Kali ini motivasinya agak lain. Kalau pas pembukaan pameran pasti banyak makanan. Berkumpullah banyak seniman papan atas Solo waktu itu. Berbaur sama mereka ini biar ada bau-bau sok seniman nya gitulah..Kalau nonton pameran karena ruangannya dingin, ber AC. Biasanya setelah dua tiga kali putaran sama ndlosor di ujung nyender tembok.

Pindah ke Jakarta. Semakin banyak venue yang bisa didatangi. Ada TIM, Bentara Budaya, Galeri Antara, Galeri Edwin, Galeri Nasional banyak pokoknya. Saya bisa seharian ngiterin pameran kalau pas nganggur, dan kebetulan waktu itu banyak nganggurnya. Sesekali ketemu sama seniman top yang juga lagi lingak-linguk. Ketemu juga akhirnya sama Semsar Siahaan, pelukis dan aktivis yang kakinya invalid dipopor tentara ketika mereka masuk TIM (tahun berapa itu ya ?).

Saya tidak punya pretensi untuk tahu semua. Nonton ya nonton saja, menikmati garis warna, gradasi, kontur, perbedaan ekspresi muka dalam satu kanvas. Banyak yang nggak dong juga. Tetapi biar tetap sok eksis saya kadang-kadang munyer-munyeri kepala, megang dagu sok mikir padahal ya nggak ngerti juga. Tetapi cobalah amati misalnya lukisan Raden Saleh tentang Penangkapan Diponegoro. Mahakarya ini masih bisa disaksikan di Galeri Nasional. Lihat bagaimana Raden Saleh mampu mengungkapkan secara detail ekspresi dari masing-masing karakter dalam lukisan tersebut. Ada yang duduk di bawah Pangeran Diponegoro dengan eksprsei masygul, sedih dan satu tokoh yang terkesan nyokorke (apa bahasa Indonesianya ya ).

Lihat muka Diponegoro. Frontal ke depan ke sang penangkap. Ekspresi yang berbeda-beda juga digambarkan oleh para tentara Belanda. Detailnya sang maestro Raden Saleh. Atau di venue yang sama, ada lukisan Diego Rivera berjudul Gadis Melayu dengan Bunga. Perhatikan raut muka dan detail rambutnya. Si pelukis mencoba menterjemahkan gadis melayu dengan referensi gestural non Asia. Buat saya malah menjadi sesuatu yang menarik.

Buat saya nonton pameran lukisan adalah katarsis. Upaya membebaskan diri dari rutinitas visual yang itu-itu saja. Televisi, bioskop, ragam visual di gadget. Soal mengerti atau tidak ya bisa nomer kesekian.

Gitu saja ya…

Rabu, 24 Agustus 2016

NONTON 3 SRIKANDI : CHELSEA ISLAN...AKU JATUH CINTA PADAMU NAK..




Jangan banyak tanya dan komentar. Lihat saja Tara Basro yang diam tetapi meledak di dalam, Bunga Citra Lestari yang gamang tetapi menjadi seorang pemimpin yang baik, dan Chelsea Islan : aduh nak…aku jatuh cinta padamu. Jan ayu, merak ati, cengengesan e jan pas tenan  nak..Sinau boso suroboyan e mbok tambah suwe sithik... Temenan ki..aku tresno awakmu..

Reza Rahardian menjadi dirigen yang nyaris sempurna dalam film ini. Kalau dalam komposisi pemain bola, Reza memainkan peran sama baiknya dengan Tony Adams, kapten legendaris Arsenal (ini bukan karena gara-gara sutradaranya The Gooners ya. Tony Adams adalah tukang minum tetapi pekerja keras di Arsenal). Temperamental,  displin militer, tetapi menyisakan rasa cinta terhadap perempuan tua yang mengasuhnya.

Bermain sebagai Donald Pandiangan, ia sebenarnya bisa mencuri banyak kesempatan untuk menguasai adegan. Tetapi, ia memberi keleluasaan pada patner mainnya di film ini untuk membangun suasana bersama-sama. Lihat saja adegan kematian ibu Lilis di pekuburan. Ia mengatakan kalau Lilis harus tetap bersiap-siap menuju uji coba menjelang Olimpiade. Momen itu mempertautkan konteks adegan yang saling silang antara Donald dan Lilis. Dua-duanya pernah merasakan hal yang sama, yakni kehilangan ibunya. Tetapi nak Chelsea ternyata melepas adegan itu begitu saja. Dialog yang diucapkan sekedar : Bang Pandi benar…

Ini sebuah statement. Bahwa kepedihan tidak akan menghalangi sebuah tujuan yang lebih besar. Sepotong kalimat itu akan lebih intens jika saja Chelsea mengerti dialog tersebut adalah teks untuk memompa tensi cerita sampai ending. Jika saja Chelsea lebih jeli ketika menelisik skenario, pencapaiannya akan lebih klimaks lagi. Gitu ya nak…

Trio tiga srikandi ini mampu menjadikan film sebagai sebuah urutan adegan yang serba pas. Masing-masing saling mengisi tanpa kehilangan kontrol atas peran masing-masing. Memang Chelsea mencuri lebih banyak perhatian, tetapi rasanya memang karakternya yang suroboyoan ini membuat ia lebih bebas. Karakter seperti  ini ada bahayanya juga yakni ketika seorang pemain tidak mampu memainkannya secara pas, kolase yang sudah disusun akan menjadi berantakan.

Ipung sebagai DoP, melayani film ini tanpa cela. Ia tidak bergenit-genit dengan memaksakan keindahan yang tidak perlu, padahal rasanya banyak adegan yang mempunyai potensi ke arah itu. Latihan di pantai menjelang ending, misalnya. Tiba-tiba menjadi sebuah adegan yang dibuat menjadi sekedar informasi saja. Hanya saja (kritik ni Pung, kon gak sah nesu) jika saja apabila waktu itu (kalimat ini saya bikin soalnya saya pekewuh sama Ipung) dia bikin shot-shot detail rasanya kok lebih nyes..Tetapi ya itu hak dia sebagai kameraman tentu saja..

Silahkan joged-joged yang seumuran sama saya. Teristimewa adegan interior kamar mereka. Ini lagu Ratu Sejagad-nya Vonny Sumlang nyuri banget. Lagi-lagi nak Chelsea Islan yang merak ati itu membuat saya jatuh cinta. Saya nggak membandingkan peran dia dengan film-film sebelumnya karena karakternya juga beda. Tetapi apa yang terjadi kalau Chelsea cantik ini nggak ada.

Lepas dari saya gembeng atau tidak (gembeng itu bahasa Jawanya gampang nangisan) penempatan Ratu Sejagad membuat saya kembeng-kembeng. Kenapa ? Ini adalah eskapisme dari rasa tiga perempuan yang masih belum lepas dari masa remaja. Harusnya bisa nonton bioskop seminggu tiga kali sama pacarnya, ciuman tiap malam, joged-joged di Ebony tetapi tiba-tiba harus terperangkap di sebuah rumah yang jauh dari keramaian untuk sebuah prestasi. Nggak mudah lo ini. Tetapi buat saya rasa yang ingin disampaikan oleh Iman Brotoseno ini sampai ke penonton.

Sedikit buat musik. Banyak adegan yang sudah “berbunyi” tetapi dibunyikan kembali. Buat saya diam itupun bersuara. Kepedihan itu adalah bunyi dari rasa. Seperti kita yang diam tetapi mendengar detak jantung sendiri. Film 3 Srikandi buat saya mempunyai banyak adegan yang bunyinya nyaring. Tanpa harus ada aksentuasi musical film ini sudah berbunyi dengan sendirinya. Kecuali memang ada beberapa adegan yang memang relevan karena dibutuhkan kehadiran musik.

Ini adalah kerja besar pertama Iman Brotoseno. Rapih dengan kontur dramaturgi yang terjaga. Tidak pretensius menjadi film yang sok menfestival, tetapi lagi-lagi memang ramuan pas buat penonton. Ada keharuan, kegembiraan dan kebanggaan. Buat saya yang mendudukkan diri sebagai penonton biasa, kita boleh pulang dengan senyuman. Lagi-lagi ingat Chelsea Islan…matekkk akuuuu…

Demikian..





Selasa, 23 Agustus 2016

NONTON TIGA DARA



Pertama-tama, ijinkanlah saya berterima kasih pada tehnologi. Bagaimana tidak, coba. Gambar yang hancur berantakan, hitam bopeng sana-sini kok tiba-tiba jadi clear di tangannya mas Taufiq Marhaban, orang pinter nan jenius yang bisa ngisik-isik frame tersebut jadi kinclong. Belum lagi suara sember pating krewet yang berubah menjadi bening. Sebening raut wajahnya Indriyanti Ishak yang ampun-ampunan cantiknya !

Saya pernah nonton film tersebut puluhan tahun yang lalu (penjelasan puluhan tahun ini saya rasa perlu. Bukan sok tua, tetapi ini ilmu membandingkan). Ada almarhum Sumardjono (beliau salah satu editor top negeri ini. Pengajar senior di IKJ) di sebelah saya, lalu ada Arya Kusuma Dewa (ini juga. Sutradara top republik ini. Karyanya selalu menjadi catatan sejarah sinema Indonesia) dan yang terakhir Arturo GP (sama persis. Editor handal kelas festival. Kabar terakhir beliau sedang menulis disertasi S3-nya). Lalu saya (ini asli bukan siapa-siapa).

Pak Mardjono hanya memutar film itu sepotong demi sepotong lalu menjelaskan panjang lebar tentang siapa Usmar Ismail, bagaimana film ini dibuat, dan lain lain saking banyaknya. Saya melongo mendengar beliau cerita. Seperti dongeng kalau di bawah kaki kita ada duit milyaran gitu. Saya hanya tahu sejarah film itu dari buku-buku, tiba-tiba ada sosok yang bisa bercerita di depan saya.

Nah kemarin akhirnya saya bisa full nonton film tersebut dengan nyaman. Tanpa kresek dan pating krewet ! Bisa senyum-senyum melihat Fifi Young yang mainnya wajar bukan buatan, ada Citra Dewi yang cantik prototype tahun tahun segitu, Ibu Mieke Wijaya yang menari cha-cha dan lagi-lagi Indriyati Ishak yang ampun ampunan cantiknya (Ini apanya si Gery Ishak ya ? Kalau ada yang tahu mbok dikomenin).

Secara cerita film ini sederhana. Kisah tentang seorang nenek yang mencemaskan cucu perempuannya yang belum juga menikah. Ini jelas pola tutur tahun segitu, yang sampai saat ini masih relevan juga. Banyak orang tua yang masih saja harus berjibaku mencarikan jodoh buat anak perempuannya.

Tetapi lihatlah bagaimana film ini mengalir dengan enaknya. Usmar Ismail tidak pretensius membuat film ini jadi seperti teks soal perjodohan yang dihubungkan dengan feodalisme dan lain sebagainya. Atau si cucu perempuan yang kemudian bicara soal hak perempuan untuk menafsirkan nasibnya sendiri. Ya nenek cemas karena cucunya yang cantik lebih suka di dapur daripada dansa-dansi cha-cha dan serampang dua belas. Gitu aja !

Usmar Ismail menempatkan setiap frame seperti sebuah tata panggung. Pemain menjadikan ruang seperti sebuah pertunjukan dengan pola gerakan dua dimensi saja. Saya tidak tahu ini soal tehnologi atau gimana, tetapi kesederhanaan itu ternyata buat saya menjadikan impresi yang berbeda. Film Tiga Dara berisikan lagi-lagu yang popular pada masanya. Penonton dihibur oleh kekuatan lagu dalam film ini sekaligus kesederhanaan pola dramaturgi.

Makanya, nontonlah film ini. Tidak perlu sampai berkerut-kerut karena rumitnya cerita, atau membelalak mata karena adegan spektakuler. Semua berjalan biasa dan sederhana. Nikmati saja sambil senyum-senyum dan tertawa..

Kamis, 11 Agustus 2016

GUNAWAN RAHARJA: SURAT UNTUK TINO SAROENGALLO Eps. 4 (Aktivitas “be...

GUNAWAN RAHARJA: SURAT UNTUK TINO SAROENGALLO Eps. 4 (Aktivitas “be...: Beberapa hari saya ngilang mas. Ada buruhan sehari di Bali, tetapi preps nya makan waktu dua hari. Bukannya nggak sempat...

SURAT UNTUK TINO SAROENGALLO Eps. 4 (Aktivitas “berotak” dan Dunia Buruh Memburuh)


Beberapa hari saya ngilang mas. Ada buruhan sehari di Bali, tetapi preps nya makan waktu dua hari. Bukannya nggak sempat nulis. Tetapi ide nulis nyantol di kepala, terus mau buka laptop rasanya berat kalau sudah harus pulang ke penginapan di Legian, sementara lokasi buruhan di Tampak Siring.

Ada korelasi antara rajin nulis dan baca serta aktivitas memburuh. Kalau burung nganggur memang ada sisi positifnya. Rumah menjadi bersih, kebun disiram, ada tanaman baru dan hidup teratur. Sambil siram-siram tanaman masih bisa ngobrol dengan tetangga, menjalin tali silaturahmi. Sebaliknya, kalau banyak buruhan, rumah berantakan, tanaman liar menjalar dan berangkat dini hari pulang menjelang malam. Gabungan antara intel polisi dan bandar narkoba…

Dari dulu, selalu susah bagi badan antara dua hal itu. Kerja model seperti ini memang menghabiskan banyak waktu. Nggak sebanyak dulu secara frekwensi, tetapi ternyata pola tetap tidak berubah. Ini konsekwensi profesi dan keinginan untuk tetap menjaga kewarasan (kita pernah mendiskusikan hal ini lima enam tahun yang lalu di kamar hitam Bintaro). Dua-duanya gak bisa ditinggalkan. Untungnya saya sudah mulai bisa memilih, kira-kira mana yang mesti ditinggalkan.

Ini dua bidang yang sulit dipilih sih. Seperti bayangan saya dulu ketika bertemu sampeyan beberapa puluh tahun yang lalu. Jurnalis di Mutiara, Jakarta-Jakarta terus nyemplung ke sini ini. Dua-duanya bisa jalan dan saling melengkapi. Saya agak telat untuk membuka jalur pertemanan karena putra daerah itu. Secara psykhologis ya…

Ketika usia mulai menua, memang butuh banyak hal yang dipikirkan. Beberapa pekerjaan yang mengharuskan keluar daerah mesti dipikir ulang. Fisik sih nggak banyak masalah. Trip panjang terakhir di Atambua, sehat walafiat. Nggak flu, nggak apa, cuma mata yang semakin rentang sama kencengnya sinar matahari. Anak-anak ni yang mulai mesti dilihat-lihat.

Proyek buku itu ternyata lebih menyita waktu. Tiba-tiba saya baru sadar kalau tahun ini siap-siap menulis dua buah buku. Yang satu buku produksi film (itu), yang satunya lagi buku tentang jamu. Ada teman yang mempunyai usaha jamu gendongan yang belakangan tidak digendong. Ia membuat beberapa jamu baru (istilahnya katanya fussion) yang lebih kekinian. Intinya jamu milenial begitulah. Sampai Jakarta nanti saya antar ke sini untuk minum jamu bersama.

Ok..saya beberes rumah dulu mas. Sapu-sapu ngepel-ngepel. Olah raga kaum kasepuhan ya. Ini kaya adegannya maestro dagelan Gepeng. Yang selalu masuk panggung untuk menaikkan atmosfir panggung yang mulai turun. Salam buat Yudi Datau di situ..

Eh mas, saya janji link nya Kompas kan. Ternyata e paper nya Kompas itu ribet suribet. Saya mau bayar katanya nggak usah karena langganan. Njuk saya mau log ini mesti minta no pelanggan. Saya nanya no pelanggan ke lopernya, dia bingung. Saya simpenkan koran aslinya saja. Mengkliping..

Selamat pagi…





Kamis, 04 Agustus 2016

GUNAWAN RAHARJA: SURAT BUAT TINO SAROENGALLO Eps. 3 (Belajar Menuli...

GUNAWAN RAHARJA: SURAT BUAT TINO SAROENGALLO Eps. 3 (Belajar Menuli...: Selamat pagi Mas TS.. Tiga bulan lalu (sebelum kita ketemu sore itu sebelum sampeyan ke Singapura), saya sempat curh...

SURAT BUAT TINO SAROENGALLO Eps. 3 (Belajar Menulis Buku)


Selamat pagi Mas TS..

Tiga bulan lalu (sebelum kita ketemu sore itu sebelum sampeyan ke Singapura), saya sempat curhat soal menulis buku. Saya katakana, bahan sudah terkumpul, catatan soal berbagai produksi dari kerja saya di film sejak tahun 1995 sudah ada. Beragam pula. Dari mulai disiksa mas Monod sampai pantat lecet, makan nasi bungkus sisa untuk riset Daun di Atas Bantal sampai cerita terakhir ketika saya berhasil mendatangkan filter lampu sampai di Atambua !

Baru belakangan saya ngerti, ada yang kurang yaitu foto. Saya tidak terlalu banyak mempunyai stok foto sutingan. Mungkin karena strata saya yang buruh, tidak memungkinkan banyak waktu untuk ceprat-cepret. Apalagi seperti jaman sekarang, masuk lokasi shooting belum ngecek apa-apa sudah pada saling potret-memotret.

Makanya sebulan belakangan ini saya mulai nyari kira-kira foto apa yang saya punya. Hasilnya nol besar alias nihil. Tidak satu lembar foto pun yang saya punya (buat yang generasi sekarang, jaman dulu foto disimpan dalam bentul lembaran ya. Bukan file atau data. File atau data jaman dulu hanya ada di kantor kalurahan. Biasanya data jumlah penduduk atau jumlah bayi lahir). Saya mencoba menghubungi pihak-pihak yang saya pikir punya stok foto jaman itu. SET nya mas Garin kantornya tutup. Si bapak sutradara itu sekarang lagi sibuk jadi koreografer, dan kabar terakhir masih di Darwin. Gemini Film juga sudah almarhum. Mbak Uning (masih ingat kan. Ibu manis berkacamata dengan senyum yang renyah itu) sudah jadi produser film dokumenter kondang plus bisnis makanan di Senayan City. Sementara kantornya yang legendaris itu akan dijual beserta asset-asetnya. Termasuk foto yang ada sayanya ya..

Nglokro saya. Padahal kalau saja dari tahun itu saya rajin motret mungkin hidup saya akan punya jejak visual. Atau, saya punya sekian ribu foto-foto yang lumayan komplit lah. Dari tahun 95, saya barengan sutradara film dokumenter top Tony Trimarsanto sudah blusukan nyari anak Girli buat materi film Dongeng Kancil. Habis itu kita sempat jalan mblasak sampai Sumba dan lain-lainnya. Masih berlanjut soal blasak memblasak sampai tahun kemarin.

Padahal saya sempat serius belajat memotret. Tahun 1998, saya datangi rumah fotografer kondang Erik Prasetya di Kompleks PWI Cipinang ( eh, bener nggak ya mbak….). Saya membawa kamera Nikon FM 2 boleh minjem Yudi Datau (dengan catatan yang berderet-deret tiga halaman. Nggak boleh ini nggak boleh itu). Sampai di sana mas Erik langsung bilang : ini kameranya Yudi udah nggak bisa dipake buat belajar Gun..pake punya gua aja ! Sampai detik ini saya nggak berani ngomong Yudi soal kamera yang katanya nggak bisa dipake buat belajar itu.

Dan selama dua minggu saya rutin datang. Belajar diafragma, shutter speed, lensa, banyak lah. Plus bonus majalah Foto Media. Saya disuruh baca hampir semua koleksi majalah dan buku-bukunya. Enaknya lagi, saya masih dapat film gratis, nyetak gratis. Ini pola belajar model ISIS. Datang modal baju di badan sama doa, pulang pinter bikin bom..

Dan tetap gagal. Tahun itu terlalu banyak peristiwa penting. Paruh waktu 1998 sampai 2000 saya memang nenteng kamera pinjaman kesana kemari. Tapi ya nggak dipake. Saya sempat sampeyan ajak kerja buat ARD TV Jerman itu. Terus lanjut ke MBC nya BBC. Bablas lagi jadi tukang delivery kaset video dari Hotel Mandarin ke lokasi demo/kerusuhan  pulang balik. Hasilnya, film utuh nggak ada isinya. Tapi duit banyak..

Barusan saya mikir kalau buku itu jadi, nggak usah pake foto tapi ilustrasi seperti storyboard gitu. Atau komik ?

Ok mas TS..saya lanjutkan hidup saya pagi ini. Ada secangkir kopi pahit sendirian, dan sepotong cinta menunggu ku di ujung sana…

Rabu, 03 Agustus 2016

GUNAWAN RAHARJA: SURAT BUAT TINO SAROENGALLO (Tinjauan Tentang Film...

GUNAWAN RAHARJA: SURAT BUAT TINO SAROENGALLO (Tinjauan Tentang Film...: Sub judul itu biar serius, kayak skripsi gitulah. Nggak jauh-jauh mikir disertasi atau tesis kaya Aryo Danusiri yang kul...

SURAT BUAT TINO SAROENGALLO (Tinjauan Tentang Film Pantja Sila Cita-Cita dan Realita)


Sub judul itu biar serius, kayak skripsi gitulah. Nggak jauh-jauh mikir disertasi atau tesis kaya Aryo Danusiri yang kuliahnya sampai Harvard.

Oke. Saya sengaja jalan awal tadi pagi. Biar nggak telat, dan bisa ngobrol dulu dengan siapa saja yang datang. Tetapi ternyata terlalu awal. Hanya ada Bedhul, mbak Nina, mbak Anna Melani (Ih mbak Anna tadi saya senyumin lho. Kayaknya lupa mbak Anna sama saya), mang Icang dan beberapa adik-adik seragam. Mbak-mbak twenty one pada belum datang. Tetapi tidak lama kemudian datang mas Noorca, Erica Jakarta Post, terus dua wartawan tua yang lupa namanya.

Saya awalnya nggak nyangka kalo venuenya serius. Makanya saya cuma pake sepatu sandal sama jaket penahan hawa dingin. Epicentrum itu sedingin Salatiga tahun 80-an. Makanya saya siap-siap. Tetapi setelah melihat mas Noorca, terus makin siangan ada wartawan-wartawan yang sepuh-sepuh, termasuk Pak Atmakusuma, Om Herman Lantang, Mega Simarmata, dan lain-lain yakinlah bahwa ini forum yang serius. Dan seperti biasa, saya sudah siap-siap mlipir. Besok nonton di bioskop saja. Tetapi rencana itu gagal total setelah mbak Anita nenteng fish and chip alias gorengan kentang sama tepung. Komat kamit khusyu sambil senyam senyum kalau ada yang kenal.

Lampu redup ketika saya masuk ke gedung. Asli sendirian. Begitu para tetamu sudah datang, mereka langsung menuju ke barisan kursi yang saya datangi. Nah, ini dia ! Sampai detik ini saya nggak mudeng kok para calon penonton yang mau masuk barisan saya ini nggak boleh ? Belakangan, mulai ada penonton sih yang jalan ke arah barisan saya. Tapi tua-tua, mulanya serius semua, dan nggak ada senyum blas di muka..

Ada MC anak muda yang pake topi ala om Pasikom.  Persiapannya lumayan matang. Bawa krepek’an di tangan. Tetapi tetep jedanya terlalu lama untuk ngomong satu kalimat ke kalimat yang lain. Nggak apa-apa, memang bukan komedian stand up komedi to ?

Satu hal. Ada ritual menyanyikan lagu Indonesia Raya. Aktivitas ini sudah hampir tidak pernah saya lakukan. Dengat lagu kebangsaan ini sendirian saja saya selalu merinding, apalagi ini bersama-sama. Ini sudah bukan mrinding lagi, tapi nangis-nangis lah saya. Ternyata saya nggak sendirian. Ada dua tiga bapak-bapak yang ternyata nangis-nangis juga.

Mas Tio pasti handal lah. Nggak perlu ditulis panjang lebar. Diksinya pas, tarikan urat leher, cara menegakkan kepala, posisi tangan dengan jari yang selalu menunjuk ke depan, tangan kiri yang kadang-kadang bertolak pinggang. Saya yang dari kecil cuma bisa nonton Bung Karno dari foto njenggirat urat batin saya. Ya..nangis lagi. Mas Tio bukan aktor lagi di film itu. Kalau orang Jawa bilang, dia kemanjingan Bung Karno. Bung Karno hidup lagi. Bukan bermaksud membandingkan lho ya, tapi Mas Tio lebih plek memerankan Bung Karno daripada pak Kayam apalagi Ario Bayu. Subyektif sih tapi yo ben kan !

Saya cuma nunggu si “bung” ini bilang : My nationalism is humanity ! Nah…bener ! Saya dengar sepotong kalimat itu dari Radio Hiversum tahun 1982. Saya lupa dalam acara apa, tetapi kalimat itu hook buat saya. Masih terngiang-ngiang di gendang telinga dari tahun itu sampa delapan jam yang lalu.

Tiga perempat dari bagian film kemudian, si “bung” cerita soal sosio nasionalisme, gotong royong dan marhaenism. Bagian ini  lumayan lekat di otak karena dari semester satu saya masuk GMNI Komisariat FISIP UNS. Intinya bahagia betul saya karena nonton film ini. 

Ya, gitulah Mas TS..kelar nonton film ini saya tetap jadi Marhaen. Orang yang hanya punya alat kerja sendiri dan sekedar cukup untuk dirinya sendiri..

Bintaro...senja menjelang malam..



Senin, 01 Agustus 2016

SURAT BUAT TINO SAROENGALLO


Saya sempat mampir ke pertemuan teman-teman di Pancoran. Maaf gak bisa lama-lama. Tetapi saya senang banget. Sampean hebat lho mas bisa mengumpulkan banyak orang. Tidak cuma sekedar lintas generasi dan lintas profesi lho, tetapi kalau para teman-teman mata sehat dan mata hatinya awas ada banyak “teman-teman” lama kita di sana mas. Ok…ada wartawan senior yang nggak pernah muncul, tiba-tiba ada. Ada mantan politisi yang pensiun dan lumayan garang di jamannya, tiba-tiba ada. Ada filsuf tenar yang masih wara-wiri di dunianya, tiba-tiba ada. Nah, ini dia. Ada bekas perwira tinggi yang dulu mainnya di intelijen kok ya ada juga. Di pojok yang ada gambar Suharto itu  kami sempat ketemu. Salaman sebentar, hahahihi. Saya baru meleng sepersekian detik, eh dia sudah minggat. Memang masih intel dia !

Kalau para buruh dan majikan film ya pasti hampir ada semua. Yang pasti, saya bisa pelukan sama oma-oma. Cuma ada dua. Kalau empuk yang empuk banget, kalau rata ya model kasur basah kena hujan dikeringin ! Kalau sepuluh tahunan lalu pertanyaannya pasti begini : sibuk apa ? Lagi persiapan sama siapa ? Pertanyaan lanjutan adalah : si A sekarang lagi sama siapa ? Kok Si X di tinggalin sih ? Nah, kemarin daftar pertanyaan sudah beda . Begini : Sehat Gun, kok lu makin tua ? Makan dijaga lo ya ? Mosok saya jawab gini : Ya sehat lah..kalau nggak sehat kan gak nyampe sini. Pertanyaan makan mesti dijaga itu susah njawabnya. Makanan kok dijaga ? Kaya presiden mesti ada yang jaga ?

Ketemu juga dengan adik-adik atau keponakan-keponakan. Ada satu dua yang datang. Seumuran cucu saya – kalau jaman nakal-nakal dulu “jadi” – dan berdiri sopan di depan saya.  Datang munduk-munduk terus cium tangan. Saya sudah mati-matian sosorin pipi nggak dapat balesan. Dengan sopan memperkenalkan diri. Pak, saya anaknya pak X yang dulu sering shooting sama bapak barengan om Tino. Ini dia. Saya dipanggil pak, sampean dipanggil om…

Nah, saya muter venue sendirian. Dari pojokan yang jualan bir sampai ujung sebelah kanan yang berjejeran jualan makanan. Ada juga jejeran poster-poster, lukisan juga foto-foto. Saya penasaran nyari foto sutingan, eh kok nggak ada ya ? Atau mata saya yang mulai lamur jadi nggak ketemu ? Panitya ini top sekali kok. Mereka membagi venue jadi dua section. Sebelah kiri itu bangsanya baju-baju, memorabilia, sama buku-buku. Sebelah kanan isinya makanan semua. Sebelah kiri yang jaga stand manis-manis dan cantik, sebelah kanan ibu-ibu dan oma-oma. Entah apa tujuannya, mari kita tanyakan ke Ibu Leny Lolang !

Frontal di depan itu ada panggung (gobloknya saya ya, nggak kasih foto-foto. Saya nggak ada tradisi motret sih) lumayan besar dengan peralatan serius. Pas saya datang, ada pasangan lagi nyanyi. Namanya Bonita dan suaminya. Suaranya oke banget, tapi saya nggak begitu mudeng lagunya. Iseng saya simak lagi rundownnya. Musisi hebat-hebat tapi nggak ada yang nyantol di kepala. Nggak ada Katon Bagaskara atau Ebiet G. Ade gitu ya ?

Karena nggak nyambung itulah alhasil saya glendotan sama Mama Shandy. Sesekali jadi guide nya mas Didit Poppy yang selalu suka main tebak nama. wong nyata-nyata udah salaman dan ngobrol panjang sama mas Sentot kok endingnya dengan pede nanya : Eh siapa euy ? Art director yaaa….Masaawohhhhhh…Trus ketemu Ringgo juga kejadian. “Ini talent siapa namanya ya. Kayaknya kondang euy ?. Melihat kedua kasus tersebut, saya memutuskan untuk selalu mendampingi beliau dalam suka dan duka – di acara tersebut – untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan…

Ok Mas TS, saya cabut dulu. Nyari –nyari sesuatu buat bayar utang kiri kanan, bayar sekolah, bayar dosa-dosa juga
Sugeng Enjang..

Ciledug pagi, 2 Agustus 2016

Sabtu, 13 Februari 2016

Film Surat dari Praha : Interpertasi Visual Lagu dan Suasana...


Lupakan logika cerita dan sejarah. Itu adalah kesan saya ketika melihat film ini lima belas menit pertama. Saya berbisik ke pasangan nonton  yang ternyata juga sebelum masuk ke gedung bioskop mempunyai ekspektasi yang sama. Akhirnya kami berdua saling bisik-bisik sambil menikmati gambar indah sutradara dan lagu-lagu cinta Glenn Fredly yang memang membawa suasana itu.
Film Surat Dari Praha bercerita tentang tokoh Jaya (dimainkan oleh Tio Pakusadewo), seorang mahid (mahasiswa ikatan dinas) yang paruh tahun 60-an dikirim oleh pemerintah Orde Lama untuk belajar di Cekoslowakia. Krisis politik yang membuat mereka tidak bisa pulang karena dicabut haknya sebagai warganegara.

Sementara ada sosok Laras (Julie Estelle) yang “dipaksa” ibunya untuk mencari tokoh Jaya. Perjalanan itulah yang kemudian membuatnya mengerti tentang masa lalu ibunya berkaitan dengan tokoh Jaya. Tokoh Jaya adalah sosok yang lonely. Hanya ditemani seekor anjing bernama Bagong. Kehadiran Laras di apartemennya malam itu membuat dirinya tidak nyaman. Tetapi setelah kejadian Laras yang dirampok, keduanya semakin dekat dan saling mengerti.
Angga Dwimas Sasongko menempatkan lagu-lagu Glenn Fredly sebagai benang merah suasana dan cara bertutur yang komunikatif. Penonton (muda) yang tidak mengerti tentang  carut marut politik saat itu dipandu oleh Angga lewat lagu-lagu yang sebagian memang sudah popular. Total ada empat lagu karya Glenn yang menjadi bagian dari film ini. Lagu-lagu tersebut adalah "Nyali Terakhir" dari album Lovevolution (2010), "Sabda Rindu", "Untuk Sebuah Nama", dan "Menanti Arah", ketiganya terambil dari album Luka, Cinta, dan Merdeka (2012). Dalam filmnya, lagu "Nyali Terakhir" dan "Sabda Rindu" dinyanyikan oleh kedua pemeran utamanya, Julie Estelle dan Tio Pakusadewo.
Glenn Fredly menyanyikan sendiri lagunya Untuk Sebuah Nama, yang mendiskripsikan “roso” (ini istilah Jawa susah untuk menjelaskannya). Sebuah lagu yang sarat amarah meskipun tetap melankolik. Sementara keseluruhan tema dari film ini diwakili oleh lagu Menanti Arah.
Seingat saya hampir semua lagu tersebut tampil utuh. Angga seperti membawa penonton merasakan suasana dan rasa masing-masing karakter lewat lagu-lagu tersebut. Seperti sebuah musik video jadinya, tetapi menurut saya inilah cara yang paling tepat untuk mendekatkan konten adegan dan cerita secara presisi kepada penonton. Ada kalanya dialog menjadi tidak berguna, bertele-tele dan nyinyir. Suasana bisa dibangun lewat lagu dalam film, apalagi jika disajikan secara utuh.
Di film ini, kita bisa merasakan kesendirian sosok Jaya, yang masih harus bekerja sebagai tukang pembersih ruangan di Praha. Kesepian itu memang sedikit jadi klise ketika ada beberapa adegan ia melewatkan waktu senggangnya di rumah minum. Ruangan di apartemen yang kusam, Praha yang lusuh dan abu-abu, dan tokoh Jaya yang sering mengajak Bagong bercerita dalam bahasa Jawa. Kesendirian Jaya diungkapkan dalam lirik lagu yang ditulisnya, yang belakangan kemudian ditemukan oleh Laras. Meskipun dalam film ini, tidak digambarkan secara jelas ketertarikan Jaya pada bidang tulis menulis.
Sebagai ungkapan melupakan masa lalu, Jaya juga meninggalkan bekasnya sebagai mahasiswa yang brilian. Apartemennya yang nyaris kosong. Tidak ada lagi buku-buku atau kode visual lain yang menunjukkan dirinya sebagai mahasiswa pilihan Soekarno yang dikirim ke luar negeri untuk nanti kembali dan membangun bangsanya sendiri. Ia memilih untuk mengubur masa lalunya dalam-dalam, dan hanya meninggalkan satu kenangan yang sepertinya tidak bisa dilupakan yakni sosok Sunarti.
Laras yang awalnya hanya tahu tokoh Jaya pernah berhubungan dengan almarhumah ibunya, akhirnya semakin mengerti Jaya. Bahwa pria ini jatuh cinta tanpa batas kepada almarhuman ibunya. Awalnya, ia hanya tahu lewat surat-surat ibunya yang dibacanya. Tetapi kedalaman rasa cinta sang Jaya semakin ia ketahui setelah ia memainkan lagu-lagu Jaya.
Film ini komunikatif. Surat dari Praha sekilas bisa menggambarkan apa yang terjadi di tahun enam puluhan kepada anak muda saat ini. Minimal, mereka penasaran dan akhirnya mencari tahu lebih dalam. Menonton film ini, duduk dan nikmati visualnya.

Tabik

Kamis, 24 Desember 2015

Indonesia Diantara Film (Internasional) Itu..


Cobalah nonton film Once Upon a Time in America. Itu karya terakhir dari sutradara legendaris Sergio Leone. Di opening film itu Robert De Niro menikmati opium di sebuah rumah. Setnya menunjukkan bahwa itu rumah yang diperuntukkan bagi siapapun yang ingin menikmati zat terlarang tersebut. Sejenak lupakan itu. Tetapi nikmati latar belakang musik di scene yang berdurasi hampir empat menit tersebut. Sebuah repertoar ganding yang dimainkan oleh komposisi gamelan lengkap. Penasaran siapa yang memainkannya ? Jangan cek di rolling title film tersebut karena tidak akan ada. Rahayu Supanggah dan kawan-kawan. Etnomusikolog itu memainkan musik latar belakang untuk adegan yang intens tersebut.

Saya pernah menanyakan langsung kepada beliau ketika bertandang ke rumahnya yang asri di Karanganyar. “Hehehe..saya cuma bantu-bantu saja. Pas main-main sama teman-teman”. Itu jawabnya. Hasil main-mainnya menjadi opening salah satu film monumental sepanjang masa. Seorang Rahayu Supanggah tidak hanya berkolaborasi dengan sutradara sehebat Sergio Leone. Ia juga menjadi patner kreatif untuk pentas gigantic La Galigo bersama sutradara Robert Wilson, dan beberapa film Garin Nugroho.
Satu film legendaris dari sutradara “tidak umum” Frederico Fellini. Disebut sebut sebagai salah satu sutradara pencetus neo-realisme dengan karya-karyanya yang tidak mudah dimengerti oleh penonton film. Salah satu karyanya berjudul Satrycon (1969). Film ini diadaptasi dari  naskah Phantasmegrolical Petronius yang ditulis pada masa Pemerintahan Nero akhir abad 1M. Kalau ada waktu coba perhatikan dengan seksama beberapa adegan di dalamnya. Ada music score yang nyata-nyata memasukkan komposisi musik pengiring Tari Kecak dari Bali. 

Sebuah film softporn berjudul Emanuelle. Produksi tahun 1974 disutradarai oleh Just Jaeckin dibintangi oleh Sylvia Kristel. Menceritakan kisah seorang perempuan istri seorang diplomat di Bangkok yang terlibat banyak skandal seks (cek film ini di kanal youtube). Ada beberapa adegan panjang tentang tarian Pendet dan shooting di Bali. Ada landscape persawahan yang sejuta umat pernah foto di situ. Kesan yang saya tangkap memang adegan di Bali tersebut ada footage yang dibuat (mungkin) oleh second unit nya. Tetapi kalau sempat tengok di ending rolling title. Nihil lagi informasi soal tarian dan lokasi tersebut.
Dalam disiplin kerja film yang saya ketahui, wajar untuk menyebut dengan detail tentang siapa dan apa saja yang terlibat dalam sebuah produksi. Kita harus mencari data yang benar agar siapa dan apa saja tersebut muncul di keterangan berurutan yang biasanya ada di akhir sebuah film. Memang tidak semua penonton betah untuk menyaksikan prosesi pertunjukan film berakhir . Dan bahkan banyak pihak juga yang merasa tidak perlu namanya tercantum kecil-kecil dan naik berurutan secara cepat di ending sebuah film.
Apapun namanya, itu adalah sebuah penghargaan. Bagaimana kita ikut menghargai siapapun yang terlibat dalam oleh produksi film. Pencantuman nama itu adalah salah satu bagian dari respek tersebut. Kalau saja ada yang tidak dicantumkan, mungkin saja lupa, atau tidak sengaja bahkan parah lagi tidak tahu.
Tabik..

Selasa, 22 Desember 2015

Film SENYAP dan Keheningan yang Menyesakkan..



Fs. Dari dalam terdengar suaranya yang seperti mewancarai. Adi yang menjadi tokoh dalam film ini bertanya jawab dengan seorang kakek dan perempuan setengah baya yang belakangan kita tahu dia anaknya. Dengan lugas si kakek menjelaskan bagaimana membunuh orang dan kemudian meminum darahnya. Biar gak stress, katanya. Sejenak Adi diam. Kemudian ia menjelaskan bahwa salah satu dari orang yang dibunuh si kakek adalah kakaknya. “Abangku orang yang dipotong juga waktu itu “ katanya.

Si kakek diam. Perempuan setengah baya itu pun hanya mengejapkan matanya berkali kali. Si Adi menutup mulutnya sekilas, lalu kembali melihat ke mereka berdua. Si kakek beberapa kali melihat ke kiri kamera. Mungkin ada jam di situ, atau obyek lainnya. Kamera close up ke Adi yang bertanya ke perempuan tersebut. “Kakak tahu kalau ayah dulu seorang pembunuh” katanya. Si perempuan tersebut diam tak menjawab. Sesaat kemudian ia menjelaskan bahwa baru siang ini ia tahu siapa ayahnya yang sebenarnya. Seorang pembunuh keji pada masanya.
Full shot lagi. Mereka bertiga dalam diam. Hening. Saya sesak nafas dan hampir muntah. Kamera ke close up si perempuan tersebut. “Kita sepertinya kenal ya”, katanya ke Adi. Adi menjawab dengan senyum getir bahwa rasa-rasanya kenal. Ia segera beranjak dari kursinya dan memeluk perempuan itu sambil keduanya menangis. “Kita saudara ya..maafkan ayah saya”.
Saya pun muntah.
Film ini berhasil membuat saya merasakan kengerian, kepedihan dan rasa hening yang menyesakkan. Cara Adi untuk melakukan wawancara yang menekan, lugas buat saya itu adalah perjuangan luar biasa. Ia adalah korban. Ayahnya yang pikun dan lupa ingatan setelah kakaknya hilang, dan ibunya yang tetap menanggung duka dan dendam berkepanjangan. Sementara ia harus “menggantikan” fungsi Joshua Oppenheimer untuk membuka tabir semua kekejaman manusia yang melakukan aksi kekejian jaman tersebut, termasuk ke kakaknya.
Ia harus mewancarai paman adik ibunya yang menjadi penjaga penjara. Si paman tahu bahwa salah satu keponakannya ada di dalam penjara dan akan dihabisi nyawanya. Tetapi kuasa di atas kuasa tidak mampu memberi energi keberanian, sekedar untuk mengabarkan ke adik perempuannya kalau si keponakan ada di penjara. Dan dalam wawancara itupun ia menyatakan bahwa “siapalah saya”. Jawaban khas masyarakat yang tertindas.
Beberapa kali ia datang mewakili sosok Joshua ke berbagai nara sumber. Dan yang ia datangi adalah orang yang tahu peran atau bahkan ikut membunuh kakaknya sendiri. Sebagai pewancara – subyek – ia harus tetap konsisten dengan logika bertanya tanpa harus larut dalam emosi yang berkepanjangan. Saya hanya membayangkan kalau ini terjadi pada saya. Tahu di depan mata pembunuh kakak sendiri, sementara ayah dalam kondisi antara hidup dan mati.
Semua subyek dalam film ini adalah korban. Tetapi dalam film ini saya tidak menemukan siapa penyebab itu semua.

Tabik..



Rabu, 16 Desember 2015

Film NAY : Memindahkan Ruang Jiwa ke Mini Cooper !


 
Kemarin saya menonton Film Nay di Paviliun 28 Petogogan. Ternyata ada untungnya nonton di venue kecil tapi nyaman itu. Lebih intens dan meditatif (?). Saya tidak membayangkan jika nonton di bioskop dengan ragam penonton ( yang saya selalu mengistilahkannya sebagai gerombolan) yang tidak seide. Dalam waktu hitungan menit, melihat tokoh Nay yang ternyata hanya menyetir mobilnya memutari Sudirman, Kuningan, SCBD para penonton yang mulai bosan pasti sudah membuka gadget masing-masing dan tang ting tang ting. Nah di forum kemarin, semua takzim melihat ke layar di depan seperti umat yang mendengarkan pemuka agama ceramah.

Nay adalah perempuan matang. Mempunyai seorang pacar yang bernama Ben dan manager bernama Ajeng. Dalam sebuah perjalanan ia menelpon Ben untuk mengatakan bahwa dirinya hamil. Si Ben yang anak mami berusaha menjaga jarak atas terjadinya kehamilan tersebut. Ajeng yang tetap menginginkan karir Nay moncer, menelpon Ben dan keduanya sepakat untuk mengugurkan kandungan Nay.
Nay seperti melihat masa lalunya. Djenar dengan hebatnya menempatkan satu karakter Nay untuk mewakili dua karakter lainnya dalam konteks paralel. Ketika Nay melihat ke kirinya (atau kalau kita lihat filmnya ke kanan frame) itu adalah posisi gugatan sebagai Nay kekinian terhadap ibunya. Ketika Nay frontal ke kamera, ini adalah posisi Nay dalam menyikapi hidupnya sendiri. Nay melihat ke jendela atau ke kanan, Nay bertransformasi sebagai sosok ibunya yang cocomeo (istilah ini saya tidak ketemu bahasa Indonesianya) yang nasehat petatah petitihnya.
Penonton merasakan pemberontakan Nay dalam tiga konsep yang berbeda. Satu ruang kabin kecil mobil Mini Cooper ini menjadi ruang multi teater bagi Sha Ine Febrianti untuk menjadi tiga karakter yang sebenarnya tumpuk jadi satu : Nay. Ini adalah acrobat dramaturgi yang menarik. Artinya seorang Ine harus mengerti tentang frekwensi dramaturginya, karena ia tidak melakukan pola peran dengan lawan main. Ia yang paling mengerti dimana harus menjaga jarak emosi dengan sosok kanan, kiri atau ke depan (berdasarkan posisi kamera).
Menurut saya, ini kelebihan tetapi juga bisa menjadi kekurangan. Kelebihannya tentu adalah kebebasan interpertasi. Sha Ine Febrianti boleh berteriak, menangis atau tiba-tiba tertawa tanpa harus menala lawan mainnya. Kekurangannya adalah pola ini bisa menjadi jebakan ketika tempo dramaturgi yang dimainkannya tidak konstan, karena ini bukan sebuah panggung pertunjukan yang ritme emosionalnya bisa dijaga. Ini adalah sebuah film panjang dengan masa produksi shooting lima hari. Dan seorang Ine tidak tahu take mana yang harus dipakai sehingga ia tidak bisa mengatur pola tersebut.
Lagi-lagi Djenar yang jadi dirigen. Ia menjaga keseimbangan intensitas Ine yang terperangkap dalam tubuh Nay sama besarnya. Seolah olah, mereka adalah pasangan ganda pemain bulutangkis yang sama sama sudah mengerti kapan harus main lob panjang atau net halus di depan net.
Kameraman Ipung juga berhasil mencairkan ruangan mobil kecil itu menjadi ruang pertunjukan yang memukau. Saya tidakk berkomentar soal angle, karena itu ada dalam wilayah seorang kameraman. Tetapi kameranya efektif untuk mengerti kedalaman ruang psykhologis seorang Nay.
Wajar kalau film ini mendapatkan penghargaan di JogjaNETPAC Asean Film Festival 2015.
Tetapi yang paling impresif adalah ketika ada seorang remaja perempuan abg di belakang saya yang mengeluarkan statemen seperti ini : Saya baru sekali nonton film seperti ini. Saya senang karena film ini membuat saya berpikir..
Sama saya juga nak..

Tabik..